Tidak Menjadi Campur dengan Dunia Ini

Awal  pergerakan  Maranatha  memang  kuat  sekali  berbicara  bahwa  kita  tidak campur dengan  dunia ini. Tuhan itu memiliki cemburu dan cemburunya adalah api yang menghanguskan. Tuhan cemburu kepada umat kepunyaan-Nya. Mari kita baca Matius 13:18-19 di situ tertulis ada firman tentang kerajaan sorga, bukan
sekedar  Injil  biasa.   Jika  Saudara  tidak  menerima  firman  kerajaan  sorga  maka Saudara tidak akan diselamatkan. Namun mendengar saja tidak cukup, Saudara harus  sampai  berbuah.   Yang  pertama,  firman  yang  jatuh  di  pinggir  jalan kemudian  firman  itu dirampas  oleh  Iblis.  Hal  ini berbicara  juga  keputusan kita
pribadi. Mau atau tidak firman Tuhan itu diambil oleh Iblis. Kitalah yang harus memperjuangkannya.   Untuk  masuk  ke  dalam  kerajaan  sorga  memang  harus melalui  pintu  yang  sesak  dan  sempit.   Setiap  orang  harus  berjuang  untuk memasukinya.   Lalu  yang  kedua,  ada  orang  yang  menerima  firman  dengan gembira,  tapi  gembira  saja  tidak  cukup  karena  setelah  itu  dia  mengalami penindasan oleh karena firman itu (Mat 13:20-22). Penindasan ini bukan karena dia  mencuri,  malas,  tapi  karena  firman.   Ada  kekuatiran  dunia  dan  tipu  daya kekayaan yang menggoda. Semua itu tidak memaksa, tapi menawarkan dengan datang secara pelan-pelan dan terus-menerus.

Kita harus sadar bahwa hidup kita harus berakhir pada keberbuahan. Kalau kita  tidak  berbuah  maka  Tuhan  tidak  berkenan  kepada  kita.   Banyak  orang Kristen  zaman  sekarang  hidupnya  asal-asalan  dan  berpikir  yang  penting  saya Kristen.   Kalau  kita  berpikir  seperti  itu  maka  kita  tidak  akan  berkenan  kepada Tuhan.   Tuhan  mau  kita  betul-betul  kudus  dan  tidak  campur  dengan  dunia  ini. Kita  memang  harus  survive  (bertahan)  untuk  hidup  di  dunia  ini,  tapi  kita  juga harus tahu bahwa hidup kita ini karena Tuhan. 40 tahun lamanya bangsa Israel berada di padang gurun. Hal itu terjadi hanya untuk mengetahui isi hati mereka. Apakah  mereka  hidup  karena  roti  saja  atau  dari setiap firman  yang keluar  dari mulut Tuhan. Memang tidak mudah mengetahui aslinya manusia. Yang tampak
dari luar sebenarnya hanyalah kamuflase saja. Jika Saudara terlihat konyol, jelek atau buruk di depan orang itu lebih baik daripada kita menutupi diri kita di depan orang  dan  sebenarnya dalam  hati  kita  busuk.  Sampai kapan  Saudara  berpurapura manis di depan orang lain? Saudara pasti capek kalau berusaha menutupi diri dan menjadi orang lain. Namun bukan berarti hidup Saudara jadi seenaknya sendiri  (sengaja  berbuat  konyol).   Tuhan  hanya  mau  kita  menjadi  apa  adanya. Kita bahagia karena memang kita bahagia. Kita harus mengerti supaya kita bisa berbuah (Mat.  13:23). Ada firman berkata “Aku membawa umat-Ku ke pembuangan karena umat-Ku tidak mengerti apaapa”. Jangan sampai kita dibawa oleh Tuhan pada sesuatu yang buruk karena
kita  tidak  mengerti  apa-apa.  Tidak  cukup  hanya  menjadi  Kristen.   Apabila  kita tidak mengerti maka kita bisa tersesat oleh Iblis. Bacalah firman Tuhan, selidiki, dan sungguh-sungguh hidup di dalamnya. Di kitab Wahyu dikatakan orang benar akan  semakin  benar,  orang  kudus  akan  semakin  menguduskan  dirinya  kudus, dan orang cemar akan makin cemar. Kita mau berbuah berkali-kali lipat, tetapi jika ada yang lain selain Tuhan maka tidak mungkin kita bisa berbuah. Di Yeremia 2:1-2 tertulis bahwa Tuhan teringat cintamu pada masa mudamu. Kalau teringat berarti sekarang sudah tidak cinta lagi. Tuhan menginginkan kasih pada  masa  muda  kita.   Tidak  jaminan  sudah  19  tahun  Jubilee  berjalan  dan kasihnya masih sama seperti yang dulu. Mari kita mengingat kembali awal kita bertobat  dan  dilahirkan  kembali.   Semua  kita  lepaskan  dan  tanggalkan.   Kita tidak  mau  ada  yang  mengganggu.   Kadang-kadang  “orangtua”  itu  sombong karena merasa sudah berpengalaman. Padahal pengalaman bisa mengalahkan cinta pada masa muda. Kita berpikir sudah tahu dan hati yang menggebu-gebu sudah tidak ada lagi. Seperti Salomo yang pada akhirnya ke nujum. Pencarian hikmatnya berakhir pada nujum. Dengan kata lain hatinya sudah tidak mencintai
Tuhan.   Kita  tidak  setia  lagi  karena  sudah  ada  yang  lain.   Dulu  kita  tidak memperhitungkan  rasa  capek,  jauh,  dan  bersemangat  kepada  Tuhan  habishabisan karena kita baru “menikah dengan Tuhan”. Orang tua pun seolah-olah kalah karena kita lebih mengasihi Tuhan. Tuhan terus menginginkan cinta kita pada masa muda kita. Sama seperti Ia menginginkan cinta bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah Mesir. Mari kita cek, apa pandangan Tuhan terhadap kita bukan pandangan orang
lain kepada kita karena keselamatan berasal dari Tuhan (Yer 2:3). Pada waktu itu Israel  adalah  buah  sulung  dari  Tuhan  (bungaran).   Bangsa  Israel  benar-benar kudus  sehingga  orang  lain  yang  “memakannya”  merasa  bersalah.   Orang  lain
bisa  terkena  malapetaka  karena  “memakan”  umat  Tuhan  yang  kudus.   Sama seperti  kita  apabila  kita  kudus,  tapi  sayangnya  kemudian  kita  dinodai,  dijamah dengan keyakinan-keyakinan kita yang lain sehingga kita tidak kudus lagi.  Kita  perlu  berjaga-jaga  supaya  kita  serius  dengan  hidup  kita  dan  tidak  campur dengan  dunia  ini  (Yeremia  3:6).   Kadang-kadang  kita  menganggap  sepele  dan berpikir  sedikit  campur  tidak  apa-apa.   Masakan  Tuhan  akan  marah.  Mari  kita berpikir,  mana  ada  suami  yang  mau  istrinya  berhubungan  dengan  orang  lain? Meskipun istrinya sudah memberikan segalanya. Tuhan juga tidak mau seperti itu.  Di  ayat  6  ini  Tuhan  berbicara  sangat  keras  terhadap  Israel.     Namun  pada nyatanya  banyak  gereja  tidak  berani  berbicara  keras  kepada  jemaatnya.  Kalau kita menemui sesuatu yang tidak benar pada umat Tuhan masakan kita
tidak  boleh  berbicara  keras?   Bangsa  Israel  diceritakan  bahwa  mereka  telah bersundal  di  bawah  pohon.   Itu  artinya  keyakinan  mereka  tidak  lagi  kepada Tuhan,  tapi  kepada  berhala-berhala,  baal-baal,  dan  bukit-bukit  pengorbanan.
Apa  kurangnya  Tuhan?   Tapi  tetap  saja  mereka  bersundal.   Apakah  Saudara berpikir,  Saudara  selamat  jika  hidup  seenaknya?   Apakah  tidak  masalah  jika Saudara menukarkan cinta Saudara kepada Tuhan dengan yang lain? Lebih baik
kita  semua  dihajar  oleh  Tuhan  daripada  kita  didiamkan  saja  dan  kita  menuju kepada kehancuran. Ada  dua  perempuan  yaitu  Israel  dan  Yehuda  (Yer.  3:7-8).   Israel  adalah perempuan murtad, sedangkan Yehuda perempuan yang tidak setia. Kita akan
melihat  kejahatan  mana  yang lebih  jahat.   Seumpama ada  suami  istri  bercerai. Setelah bercerai istri bisa melakukan apa saja yang dia mau dan itu sah secara hukum.  Sebaliknya  jika  masih  bersuami  istri,  tapi  ada  cinta  yang  lain  maka  itu lebih jahat dari yang bercerai. Yehuda tidak diceraikan oleh Tuhan, sedangkan Israel diceraikan oleh Tuhan. Tuhan berpikir jika Yehuda melihat Israel diceraikan maka Yehuda akan kembali kepada Tuhan. Namun kenyataannya tidak, Yehuda tetap  saja  bersundal.   Kita  sebagai  pemimpin  tidak  tahu  apa  yang  Saudara pikirkan.   Tegoran  yang  keras  dan  hukuman  tidak  akan  membuat  Saudara
bertobat. Saudara harus memiliki takut akan Tuhan. Jangan main-main dengan apa yang Saudara pikirkan. Memang dipikir Tuhan tidak tahu dengan apa yang Saudara  pikirkan?  (Yer.  3:9-11).   Tuhan  tahu  apa  yang  ada  di  dalam  hati  kita semua.   Jangan  bermain-main  dengan  Tuhan.   Jika  kita  bermain-main  berarti ibadah  kita  palsu  dan  itu  kejijikan  di  hadapan  Tuhan.   Kita  dipanggil  sesuai dengan  apa  yang  menjadi  keinginan  Tuhan.   Kita  tidak  perlu  menjadi  bagus menurut  ukuran  kita,  meskipun  kita  harus  menjadi  perbantahan  di  tengahtengah  orang,  jalani  saja  karena  kita  bersama-sama  dengan  Tuhan.   Tetapi
belajarlah supaya kita bisa diterima di hadapan Tuhan dan manusia. Hanya saja tetap jangan pernah kompromi dengan pemberitaan Injil kita. Kalau masih ada seruan pertobatan berarti masih ada anugerah (Yer. 3:12). Kalau masih ada orang
yang  berbicara  kepada  Saudara  untuk  bertobat  berarti  masih  ada  anugerah. Tuhan  itu  baik.   Sebenarnya  kita  memiliki  “cacat”,  tapi  masih  diterima  oleh Tuhan.   Seharusnya  kita  mengucap  syukur.   Yang  perlu  kita  lakukan  adalah akuilah  kesalahan  kita  (Yer.  3:13).   Ini  yang paling sulit dilakukan  oleh  manusia. Apalagi  kalau  sudah  ketahuan  bersalah.   Yang  ada  pasti  defense  (pertahanan untuk membenarkan diri). Manusia sulit mengakui kesalahan karena dosa. Ayatayat  di  atas  berbicara  bahwa  tidak  boleh  ada  campur  (Tuhan  dengan  dunia). Dalam  ibadah  kita  tidak  boleh  ada  berhala  lain.   Tuhan  mau  hanya  Dia  yang menjadi  Juruselamat  kita,  Penolong  kita.   Kita  diingini-Nya  dengan  cemburu. Kalau  kita  menjadi  umat-Nya,  kita  pasti  dihajar,  tapi  itu  untuk  kebaikan  kita. Bagus ada tekanan karena itu melatih kita. Jika  ada  rancangan  kita  yang  bukan  rancangan  Tuhan  berarti  itu  berhala yang  lain  (Yesaya  30:1).   Bersekutu  itu  baik,  tapi  kalau bukan  karena  dorongan
roh Tuhan maka itu perzinahan. Tuhan ingin kudus ya kudus, tidak ada kudus di mulut  tapi  busuk  di  hati.   Kudus,  tapi  membenci  orang  lain  itu  namanya  tidak kudus. Ada iri hati, itu juga tidak kudus. Bukankah kita sering tidak meminta keputusan dari Tuhan? (Yesaya 30:2-3). Belajarlah untuk sungguh-sungguh berpegang kepada Tuhan. Tuhan itu sangat memperhatikan  anak-Nya,  kekasih-Nya,  tetapi  memang  dasar  dari  manusia inginnya jalan sendiri. Mari belajar untuk tunduk kepada pemimpin kita karena itu artinya kita percaya kepada Tuhan. Kalaupun pemimpin kita aneh maka dia yang  akan  berurusan  dengan  Tuhan.   Belajar  rendah  hati,  belajar  menjadikan Tuhan  nomor  satu,  dan  belajar  tidak  campur.   Tuhan  sangat  marah  jika  kita meminta pertolongan dari orang lain padahal kita bersama-sama dengan Tuhan. Itulah sifat Tuhan. Kadang-kadang  kita  berpikir  logis,  tapi  belajarlah  untuk  menundukkan logika  kita  di  bawah  otoritasnya  Tuhan  (Yesaya  31:1).   Celakalah  Saudara  yang
mengandalkan “kekuatan kuda-kuda” dan tidak mencari Tuhan. Pikiran kita ini rentan untuk menyimpang dan jalan sendiri, oleh karena itu andalkanlah Tuhan. Lebih  baik  duduk  tenang  dan  menantikan  Tuhan  daripada  kita  sibuk  mencari pertolongan  kepada  yang  lain.   Meskipun  harus  rugi,  tetaplah  mencari  dan mengandalkan Tuhan. Malapetaka dari Tuhan itu baik untuk umat-Nya karena tanpa malapetaka mereka tidak akan berseru kepada Tuhan (Yes. 31:2-6). Tuhan menyebut  Israel  sebagai  penjahat  karena  mereka  tidak  sungguh-sungguh mencari  dan  mengandalkan  Tuhan.   Bangsa  Israel  menggunakan  kekuatannya sendiri. Sebaliknya apabila kita kudus, Tuhan yang akan berperang bagi kita. Jangan ada campur. Kalau campur pasti akan ada pertengkaran karena kita mencampurkan  keinginan  Tuhan  dengan  keinginan  nafsu  kita  (Yakobus  4:1-6).
Sungguh-sungguhlah  berdoa.   Kita  tidak  bisa  bersahabat  dengan  dunia  ini. Kadang kita ingin coba-coba. Sadarlah, Tuhan ya Tuhan, jangan dicampur (don’t mix). Tuhan mau hanya Dia satu-satunya, tidak ada yang lain. Dan apabila kita berbalik  kepada  Tuhan,  Dia  pasti  menerima.   Kalau  kita  bertobat  maka  Tuhan akan datang kepada kita.  Seperti perumpamaan anak yang hilang. Waktu dia kembali kepada bapanya, bapanya menerima tanpa syarat. Belajarlah  mengampuni,  terimalah  orang  yang  bersalah  kepadamu  tanpa  syarat. Jika kita mengampuni orang, tapi masih menginginkan syarat untuk dia berubah berarti kita belum mengampuni dia.  Jangan kehilangan cinta kita kepada Tuhan pada  masa  muda  kita  sehingga  hidup  dengan  Tuhan  menjadi  hambar.   Apakah masih  ada  sesuatu  yang  berapi-api  dan  bergelora?   Kita  akan  Tuhan  selamalamanya.   Hidup  ini  memang  susah  dan  setiap  hari  ada  lihat  bagaimana  Paulus menggunakan haknya dalam 1 Korintus 9:11-12. Belajarlah menjadi dewasa dalam pengenalan  akan  Tuhan.   Kalaupun  untuk  Injil  kita  tidak  memperoleh  apa-apa seperti yang dialami Paulus, relakanlah itu. Namun itu memang komitmen masingmasing  pribadi,  kita  tidak  bisa  menuntut  semua  orang  seperti  Paulus.   Itu
kedewasaan  tiap-tiap  orang.   Lebih  baik  kita   melepaskan  hak  kita  asal  Injil berkumandang. Kita mau melakukan untuk Tuhan bukan karena harus mendapat hak,  tapi  karena  kasih  agape  itu  sehingga  kita  mau  memberi  diri  kepada  Tuhan. Tuhan senang jika orang-orang datang kepada-Nya melalui pemberitaan Injil, tapi siapakah  yang  akan  membawa  berita  Injil  ini  ke  tengah  bangsa-bangsa?   Ya  kita orang-orang  percaya.   Jangan  takut  akan  hidupmu,  percayalah  kepada kesusahannya sendiri, tetapi nikmatilah apa yang ada sekarang dan bergantunglah kepada Tuhan.

This entry was posted in Kotbah Minggu. Bookmark the permalink.

Comments are closed.