Hidup yang diberkati di dalam Tuhan

Darwin Egan LontohApabila Saudara mengaku sebagai anak Tuhan dan sudah dilahirkan kembali, tetapi masih hidup terikat dengan hutang maka Saudara belum mengerti sepenuhnya tentang hidup yang diberkati.  Mari kita belajar dari Alkitab, bagaimana agar hidup kita bisa diberkati.  Sekarang kita hidup di zaman Perjanjian Baru, tetapi kita bisa belajar dari Perjanjian Lama bagaimana agar diberkati.  Ada beberapa hal dalam Perjanjian Lama yang masih berlaku dan ada yang tidak berlaku lagi di zaman Perjanjian Baru.  Contoh yang sudah tidak berlaku yaitu tentang makanan haram.  Misalnya di zaman Perjanjian Lama tidak boleh makan babi, tetapi di Perjanjian Baru tidak ada makanan yang haram (Kis 10:15).  Lalu tentang bait suci, di zaman Perjanjian Lama Tuhan berdiam di bait suci, tetapi di zaman Perjanjian Baru Tuhan tinggal di dalam kita, orang-orang yang percaya, melalui Yesus Kristus karena kita adalah bait sucinya (1 Kor 6:19).

Lalu bagaimana dengan berkat?  Bagaimana supaya kita bisa hidup di dalam berkat?  Kita lihat di Matius 23:23.  “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”  (Matius 23:23).  Yesus di situ menegur orang Farisi karena mereka memberikan perpuluhan dll, tetapi mengabaikan yang terutama dalam hukum Taurat.  Yang ditegur adalah orangnya, bukan perpuluhan yang mereka berikan.  Perpuluhan ada di zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.  Yesus tidak melarang untuk memberikan perpuluhan.  Jadi salah satu cara agar kita diberkati adalah dengan memberikan perpuluhan dan persembahan.  Namun selain itu, kita juga tidak boleh mengabaikan yang terutama yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.

Perpuluhan adalah sepuluh persen dari penghasilan kita.  Tuhan katakan kepada kita untuk memberi sepuluh persen, jadi jangan memberi kurang dari sepuluh persen.  Kalau memberi lebih boleh, tetapi jangan berpikir bahwa Tuhan akan lebih berkenan kepada pemberian yang lebih tersebut.  Tuhan hanya meminta sepersepuluh dari penghasilan kita karena Tuhan tahu bahwa kita masih hidup di dunia dan membutuhkan uang untuk hidup.

“..yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan…”, maksud dari ayat ini bukanlah menuntun kita untuk hidup dalam hukum Taurat lagi, tetapi kalau kita mengikuti cara untuk diberkati yang ada di Perjanjian Lama maka kita akan diberkati.  Kita tidak hidup dalam hukum Taurat lagi, tetapi kita lebih dari orang yang hidup di dalam hukum Taurat karena Yesus sudah menggenapi hukum Taurat.  Sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali, sebenarnya kita sudah diberkati.  Namun bisa saja kita tidak diberkati karena tidak mengikuti firman Tuhan yang mengajarkan kita untuk hidup diberkati.  Kita bisa beriman dalam penginjilan, tetapi bisa tidak beriman dalam hal keuangan.

1. Di dalam Alkitab terdapat lebih dari 500 ayat mengenai doa dan hampir 500 ayat yang menyangkut iman, tetapi lebih dari 2.000 ayat mengenai uang dan harta milik.

2.  Dalam Injil, Yesus membahas mengenai uang dalam 16 dari 38 perumpamaan-Nya.

Berarti hal tentang uang dan harta milik itu penting.

Di sekeliling kita ada orang-orang yang hidupnya diberkati, itu karena mereka memang suka memberkati orang lain.  Bangsa Yahudi adalah bangsa yang diberkati.  Walaupun negara mereka kecil dan pada Perang Dunia II rakyatnya pernah dibunuh secara besar-besaran, negara mereka tetap berdiri sampai sekarang.  Hal itu karena bangsa Yahudi suka memberkati.  Selain suka memberkati, mereka juga masih mengikuti aturan-aturan dalam Perjanjian Lama yang mengatur agar hidup mereka diberkati.  Coba kita lihat juga negara-negara kaya seperti Amerika Serikat dan Jepang.  Mereka diberkati karena mereka banyak membantu negara-negara lain, karena demikianlah firman Tuhan,”berilah maka kamu akan diberi” (Lukas 6:38).  Lalu bandingkan dengan negara Indonesia.  Banyak orang hanya mementingkan kepentingan sendiri dan tidak membudayakan untuk hidup memberkati orang lain.  Tidak heran kalau negara kita kurang diberkati.

Hal lain yang Tuhan ajarkan untuk hidup diberkati ada dalam Mazmur 1:1-3, yaitu kita jangan berjalan menurut nasihat orang fasik.  Orang fasik adalah orang yang menolak Tuhan dan kebenaran-Nya.  Jika ada gereja yang tidak mengajarkan kelahiran kembali, apakah mereka fasik?  Ya, sudah tentu.  Kita pun sebagai gereja kalau tidak mengajarkan kebenaran maka kita adalah orang fasik.  Selain tidak mengikuti nasihat orang fasik, kita juga harus menyukai “Taurat Tuhan” supaya kita berhasil.  Siapa yang ingin berhasil?  Ikutilah kedua hal itu.

Hal lain berikutnya agar kita diberkati adalah dengan memberi karena firman Tuhan mengatakan,”berilah maka kamu akan diberi”  (Lukas 6:38).  Mari kita mulai dengan memberkati orang lain.  Kadang kita kurang memberi karena takut kalau memberi nanti tidak cukup untuk kita.  Sebenarnya kalau kita memberi, kita tidak akan kekurangan.

Hal berikutnya agar hidup kita diberkati adalah “…dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya…”  (Ulangan 30:19-20). Kita adalah orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, maka dari itu pilihlah kehidupan.  Kita memilih kehidupan, yaitu dengan mengasihi Tuhan dan mendengarkan suara-Nya.  Kita juga bisa saling mendorong untuk menjadi orang-orang yang memberkati, tetapi kita tidak bisa memaksa mereka karena itu adalah pilihan masing-masing orang.

Kita kadang berpikir untuk pergi ke bangsa-bangsa dan menuai banyak jiwa.  Hal itu tidak salah,  tetapi yang perlu dibenahi terlebih dahulu adalah kita menjadi orang yang berhasil dalam hal keuangan.  Kita bisa mendapat berkat bukan karena didoakan pendeta atau mengikuti seminar tentang berkat, tetapi berkat itu perlu diusahakan.

“Diberkati” berarti memiliki kuasa supernatural yang bekerja bagi Anda.  Sebaliknya, “dikutuk” berarti memiliki kuasa supernatural yang bekerja melawan Anda. Kita kadang merasa mengalami kesialan, ini bisa saja terjadi karena kita tidak ikuti perintah Tuhan yang seharusnya kita lakukan untuk mendapat berkat.  Walaupun kita sudah bertobat dan dilahirkan kembali, bukan berarti kita tidak hidup di dalam kutuk lagi.  Kita bisa saja masih dalam kutuk kalau kita memilih kutuk.  Oleh karena itu pilihlah berkat.  Jangan takut dengan kabar-kabar negatif yang ada disekitar kita, seperti pasar saham jatuh, krisis, dll, karena kita tidak akan kekurangan.

Hal selanjutnya agar hidup kita diberkati yaitu takut akan Tuhan.  “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan…”  (Amsal 1:7, 20-33).    Takut akan Tuhan maksudnya yaitu kita bergantung penuh pada Tuhan karena kalau kita di luar Tuhan kita tidak akan diberkati.  Kita sudah diberkati, tetapi belum tentu kita sudah hidup di dalam berkat. Coba cek apakah kita sudah hidup di dalam berkat?  Kalaupun belum, kita tidak perlu tertuduh.  Namun jangan juga beralasan “yang penting aku punya hati kepada Tuhan, keadaanku miskin tidak apa-apa”.  Bagaimana orang mau mendengarkan kita kalau kita miskin?  Bukankah orang dunia menilai seseorang dari kesuksesannya.  Berkat adalah hak kita, tetapi kalau tidak diajarkan bagaimana mendapat berkat (yang menjadi hak kita) maka kita tidak akan mengerti.  Kita mengucap syukur kepada Tuhan karena Tuhan membukakan tentang berkat sekarang ini.  Kita tidak usah mempertanyakan mengapa baru sekarang dibukakan.  Kita percaya bahwa waktunya Tuhan adalah waktu yang terbaik bagi kita.  Selain itu, kita juga tidak perlu berkompetisi siapa yang memberi lebih banyak.  Namun mari kita bersama-sama untuk mulai memberi dan memberkati orang lain.

Kita bisa melihat orang-orang yang diberkati di dalam Alkitab.  Salah satunya adalah Abraham dalam Kejadian 12:1-4.  Abraham dipilih oleh Tuhan ketika keadaannya belum kaya raya.  Tuhan berfirman bahwa Abraham diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.  Demikian juga dengan kita, kita diberkati oleh Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.  Bahkan orang yang mengutuk kita akan dikutuk oleh Tuhan.  Abraham mendapat janji dan percaya terhadap janji itu (Kejadian 15:1-6), tetapi Tuhan mengujinya(Kejadian 22:1-12).  Abraham mentaati Tuhan karena ia beriman dan ia juga percaya bahwa Tuhan sanggup membangkitkan Ishak, anaknya (Ibrani 11:19).  Abraham lebih mentaati Tuhan maka dari itu ia mendapat berkat.

Kemudian orang yang kedua adalah Habel (Kejadian 4:1-5).  Dalam ayat tersebut, apa perbedaan Kain dan Habel?  Mengapa persembahan Habel lebih dikenan Tuhan daripada Kain?  Kain mempersembahkan “sebagian” sedangkan Habel mempersembahkan “anak sulung kambing dombanya”.  Kain telah bekerja beberapa waktu lamanya, tetapi ia hanya mempersembahkan sebagian.  Berbeda dengan Habel yang langsung mempersembahkan anak sulung kambing dombanya.  Seharusnya kita seperti Habel yaitu memberikan sepuluh persen dari penghasilan kita tanpa dipotong dengan biaya-biaya yang lain terlebih dahulu.

Tuhan sudah memberikan berkat yang luar biasa kepada kita (Matius 3:6-18).  Jangan iri melihat orang kaya yang berbuat curang karena sebenarnya hidup mereka tidak bahagia.  Kita adalah orang-orang yang sudah dilahirkan kembali dan diberkati.  Namun apakah kita sudah bebas dari rasa takut akan keuangan (kekurangan)?  Maka dari itu, kita harus belajar untuk hidup diberkati.

 

This entry was posted in Kotbah Minggu and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.