Hidup di dalam persekutuan dengan Tuhan dan jemaat-Nya

Minggu lalu kita dibagikan empat hal tentang keselamatan, yaitu pembersihan (diampuni), pengisian (hidup Kristus di dalam kita), penutupan (dimeteraikan dengan Roh Kudus), dan pengutusan (memberitakan Injil dan menjadikan orang sebagai murid Tuhan).  Kita sudah mendapatkannya melalui pertobatan kelahiran kembali, tetapi kita juga perlu bertumbuh.  Firman Tuhanlah yang terus menguatkan orang-orang yang sudah dilahirkan kembali.  Kita bisa lihat saat Yesus dicobai di padang gurun.  Yesus tidak bersandar kepada kekuatan-Nya sendiri, tetapi ia melawan Iblis dengan firman Tuhan yang sudah tertulis.  Seharusnya kita menjadi seperti anak kecil yang polos, yang hidup oleh firman Tuhan.  “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…”  (Yohanes 1:1-5).  Dalam Tuhan ada hidup dan di luar Tuhan tidak ada hidup.  Tanpa Tuhan manusia hanya berusaha untuk bertahan hidup secara jasmani.  Kalau di kitab Pengkotbah, manusia hanya mengejar segala sesuatu yang ada di dunia, tetapi semuanya sia-sia.  Sedangkan hidup di dalam Tuhan adalah kita percaya kepada Dia setiap hari.  Di dalam Tuhan hanya ada terang dan kegelapan tidak dapat menguasai (ayat 4-5).

Kita sudah ditebus oleh Tuhan, berarti hidup kita hanya bagi Dia, tetapi bukan berarti kita tidak bisa menikmati hidup.  Hanya hidup kita bukan lagi menuruti tuntutan dunia melainkan ada tujuan setelah kita ditebus.  Kristus tidak hanya untuk kita dapat bertahan hidup di dunia, tetapi ada tugas penyelenggara yang harus kita lakukan (Kolose 1:14-16).  Sebelum dunia diciptakan Tuhan sudah ada dan segala sesuatu ada di dalam Dia.  Berarti Tuhan lebih besar dari segalanya dan masalah yang kita alami itu tidak ada apa-apanya (Kolose 1:17-18).  Manusia mudah untuk melihat masalah, hal-hal negatif atau hal-hal yang tidak benar padahal jika sudah ada terang maka kegelapan seperti itu seharusnya tidak ada.  Hidup di dalam Tuhan berarti hidup kita tidak bercacat cela dan kudus.  Namun pada nyatanya tidak mudah untuk hidup seperti  itu (dalam terang).  Banyak orang Kristen hanya mau diampuni, tetapi tidak mau hidup dalam Kristus.  Mengapa Tuhan perlu memberi Roh Kudus?  Karena kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar, di luar kekuatan kita sendiri.  Tanpa Roh kita tidak dapat berbuat apa-apa karena Rohlah yang memberi hidup dan bukan daging (Yohanes 6:63).  Maka dari itu, perhatikan hidup kita yang di dalam roh.  Kita sering lebih mudah memperhatikan hidup yang di dalam daging padahal Rohlah yang memberi hidup.  Di dalam kita ada sukacita, tetapi mengapa Saudara masih murung?  Tuhan menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada.  Memang tidak mudah untuk melihat janji Tuhan sampai terjadi, tetapi seharusnya kita mau terus belajar supaya memperoleh kemenangan setiap hari.

Ada hidup yang lebih penting daripada sekedar makanan, minuman dan pakaian.  Saat Yesus dicobai, Dia berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan.  Namun benarkah kita berani mempertahankan apa yang kita percayai itu?  Rasul-rasul ingin sekali memberitakan hidup yang kekal yang mereka dapat (1 Yohanes 1:1-2).  Bagaimana dengan kita?  Betulkah kita bisa merasakan dan melihat hidup kekal itu?  Hidup kekal yang tidak kelihatan itu bisa diraba.  Yohanes bisa merasakan apa yang terjadi di dalam hidupnya.  Inilah yang menjadi kesaksian bagi kita semua yang sudah melihat dan merasakan hidup itu.  Ini ditulis kepada umat-Nya, kita tidak akan menahan-nahan untuk memberitakan hidup yang mengalir di dalam kita kepada orang lain.  Orang yang masih kosong dalam hidupnya, berarti ia belum mendapat hidup itu.  Sedangkan jika kita yang sudah memiliki hidup kekal, tetapi merasakan kekeringan berarti kita sudah kehilangan hidup itu.  Karenanya jangan kehilangan persekutuan dengan Bapa.

Kita berani bersaksi kepada orang-orang karena kita memiliki persekutuan dengan Bapa dan kita ingin mereka juga mempunyai persekutuan dengan Bapa (1 Yohanes 1:3-4).  Kalau kita tidak pernah bersekutu dengan Bapa, tidak heran jika kita mengalami kekeringan.  Selain itu kita bisa lari kepada persekutuan dengan pendapat atau pemikiran sendiri atau bahkan Iblis.  Kita mengucap syukur ada jemaat karena kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bersekutu dengan Bapa maupun jemaat.  Tuhan adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5).  Ini pernyataan yang sangat penting bahwa di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.  Jika kita di dalam Dia (dalam terang), kita jangan sampai dipengaruhi oleh ketakutan, kuatir, iri hati, dan hal-hal negatif.  Namun hidup di dalam daging mudah rapuh.  Paulus pun mengatakan kita manusia celaka karena masih ada daging.  Jika kita jatuh pada kegelapan, itu bukan karena Tuhan, tetapi pilihan kita.

Kalau ada kegelapan, kita tidak akan bisa bersekutu dengan Tuhan (1 Yohanes 1:6-7).  Selain itu, jika kita punya iri hati, negatif, dan rasa tidak percaya dengan jemaat, maka kita tidak mungkin bisa bersekutu dengan mereka.  Kalau kita sudah di dalam Yesus, tidak mungkin ada lagi kegelapan, artinya kita harus mengampuni saudara kita, tidak iri hati atau negatif atau berprasangka buruk dan lain-lain.  Kita bisa menerima orang lain bukan karena perbuatan baik yang mereka lakukan, tetapi karena kita menerima pengampunan Tuhan.  Kalaupun kita disakiti oleh orang lain, itu tidak masalah karena kita sudah memiliki terang.  Coba kita lihat seorang anak kecil, dia tidak pernah menyimpan dendam walaupun bertengkar dengan temannya.  Kita bisa saja menutupi bahwa kita sudah mengampuni saudara kita, tetapi sebenarnya belum.

Jangan ada kepura-puraan  (1 Yohanes 1:8).  Orang yang sudah dilahirkan kembali bisa jatuh ke dalam dosa dan jika Saudara berdosa, akui saja (1 Yohanes 1:9).  Namun orang susah mengakui dosanya karena dia tidak mau kelihatan lebih rendah daripada orang lain.  Pengakuan memang tidak mudah.  Kadang kita berpura-pura untuk menutupi kejelekan kita.  Kalau kita tidak mau mengaku maka hidup kita tidak akan bahagia.  Karena itu, terbuka dan akui di hadapan Tuhan, sama seperti Daud.  Orang yang diampuni dosanya pasti berbahagia (Mazmur 32:1-5).  Ketika kita tahu bagaimana rasanya diampuni maka kita bisa mengampuni orang lain.  Kadang kita sulit untuk mengampuni orang lain dan cenderung selalu mengingat kesalahannya.  Namun bagaimana kalau Tuhan juga mengingat dosa kita terus?  Pasti kita akan selalu merasa tertuduh, tetapi Dia bukan Tuhan yang seperti itu.  Maka seharusnya kita pun bisa mengampuni orang lain.  Perumpamaan anak yang hilang, bapanya tidak menghukum dia, tetapi ia malah menerima dengan sukacita.  Namun anak yang sulung tidak mengalami persekutuan dengan bapa dan adiknya sehingga ia menjadi iri ketika adiknya kembali.  Kita harus mempunyai persekutuan atau kasih kepada jemaat.  Jangan seperti anak sulung yang menyimpan “kegelapan”.  Persekutuan bisa dimulai dari pengakuan.  Dari pengakuan itulah akan ada kelepasan.  Kita bisa menerima orang lain karena Tuhan juga menerima kita.  Dalam keadaan apapun atau siapapun kita tetap bisa menerima karena kita sudah diampuni dan memiliki terang itu.

Hal yang luar biasa hidup di dalam Tuhan adalah kita juga bisa bersekutu dengan jemaat-Nya (1 Yohanes 1:10).  Kita bisa menjangkau orang lain karena apa yang kita alami.  Orang lain akan bisa merasakan hidup itu karena ia melihat persekutuan kita dengan jemaat.  Bukan kasih yang pura-pura, tetapi kita sungguh-sungguh  memiliki persekutuan dengan Tuhan.  Setiap hari kita ada pilihan : mau mengikuti emosi kita (kegelapan) atau memilih terang.  Mari kita pilih terang supaya hidup kita bersinar.

Orang lain bisa menerima kita kalau kita mempunyai hidup itu.  Kalau kita berkata bahwa kita memiliki hidup, tetapi masih ada orang yang tidak tahan dengan kita maka kita perlu berubah.  Setelah itupun kita harus mau berubah.  Kita belajar bukan dari masalah, tetapi dari persekutuan dengan Tuhan.  Karena terang itu menelanjangi segala kegelapan.  Jangan seperti ahli Taurat yang berpikir punya hidup, tetapi sebenarnya tidak mempunyai hidup.  Untuk mendapatkan hidup, kita harus datang dan mengaku bahwa kita perlu hidup itu.

Pengakuan adalah menegaskan apa yang kita percayai. Yakni bersaksi tentang apa yang kita ketahui. Bersaksi untuk kebenaran yang kita anut.  Ada 5 bagian pengakuan :

1.  Apa yang telah disediakan Allah bagi kita dalam rencana penebusan. Kita menjadi bermasalah karena kita lupa dengan segala sesuatu yang sudah Tuhan lakukan (penebusan).  Tuhan sudah memberi kuasa, janji, dan segala sesuatu  Kita telah dijadikan anak dan berhak menerima warisan.

2.  Apa yang telah dikerjakan Allah dalam kita melalui Firman dan Roh Kudus. Tuhan telah dan sedang berkarya dalam hidup kita.  Jangan kita lupa akan hal itu.  Dalam keadaan sulit, Tuhan pun terus melakukan karya dalam hidup kita.  Firman Tuhan pasti mengajarkan kita.

3.  Apa hubungan kita dengan Allah Bapa dalam Kristus Yesus. Kita sudah menjadi anak-anak Tuhan.  Jangan kuatir dengan hidup dan masa depan kita karena kita mempunyai Bapa di surga.

4.  Apa yang sedang Yesus kerjakan bagi kita kini disebelah kanan Bapa, di mana Ia senantiasa berdoa syafaat bagi kita. Yesuslah pengantara manusia dengan Tuhan (Ibrani 9:11-28), bukan nabi atau pribadi lain seperti yang dipercayai oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan.

5.  Apa yang dapat Allah lakukan melalui kita. Setelah dipanggil oleh Tuhan, hidup kita bukan hanya untuk kita.  Ada tujuan yang harus kita lakukan untuk orang lain juga.  Jika datang hal-hal yang berusaha menggoyahkan kita, misalnya sakit, kita bisa melawannya dengan pengakuan kita.  Kita tahu bahwa hidup kita tidak akan terus seperti ini.  Akan ada banyak hal yang luar biasa lagi yang akan terjadi di depan.

This entry was posted in Kotbah Minggu and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.