Hikmat yang dari Tuhan

Darwin Egan LontohKita bisa bersemangat saat menerima kelahiran kembali, tetapi bersemangat saja tidak cukup untuk menjaga kehidupan di dalam kelahiran kembali.  Kita membutuhkan hikmat untuk menjaganya dan hikmat yang dari Tuhanlah yang kita butuhkan.  Dunia bisa memberi banyak hikmat, misalnya dari motivator, tetapi hikmat itu hanya bersifat sementara.  Sedangkan yang kita butuhkan adalah hikmat dari Tuhan karena musuh kita adalah Iblis.  Dia harus diusir dengan hikmat yang dari Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama ada kitab Mazmur dan Amsal yang banyak mengajarkan tentang hikmat dan sampai Perjanjian Baru kita tetap membutuhkan hikmat.  Namun apa yang tertulis pada Perjanjian Lama disalahartikan oleh banyak orang pada zaman sekarang.  Mereka menggunakan hikmat pada Perjanjian Lama untuk aturan-aturan dalam beribadah.  Mereka masih berpikir jika gedung yang bagus, acara yang bagus dan adanya pendeta, membuat ibadah mereka lebih berkenan kepada Tuhan.  “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian…Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku…”  (Amsal 4:1-8).  Orang tua bisa mengajarkan hikmat kepada kita karena mereka mempunyai hidup yang lebih lama daripada kita.  Namun kalau sudah berbicara tentang kebenaran maka dapat kita peroleh dari dari Tuhan dan firman-Nya.

Dalam zaman Perjanjian Lama, setiap tahun ada penyucian dosa.  Orang-orang mempersembahkan korban binatang untuk menghapus dosa mereka.  Mereka telah diajarkan seperti itu dari dahulu, bahwa mereka harus mempersembahkan korban penghapus dosa melalui imam.  Seperti itu terjadi pada jaman Perjanjian Lama, tetapi pada nyatanya kebanyakan orang Kristen sekarang seperti itu.  Mereka datang ke gereja hanya untuk menghapus dosa mereka.  Mereka pikir bahwa mereka bisa berbuat dosa seenaknya lalu hari Minggu datang ke gereja, meminta pengampunan dan diampuni.  Padahal ini sama sekali tidak benar.  Dalam Perjanjian Baru Yesus telah dikorbankan untuk menebus dosa manusia dan itu hanya terjadi sekali, jadi manusia hanya beroleh pengampunan sekali seumur hidupnya.  Jika manusia berdosa dan diampuni maka dia tidak dapat berdosa lagi.  Perjanjian Baru berbeda dengan Perjanjian Lama.  Jika Perjanjian Lama harus ada persembahan korban setiap tahun dan itu hanya menutupi dosa, tetapi sekarang tidak perlu lagi karena Yesus telah datang untuk melepaskan manusia dari belenggu dosa.  Namun kadang manusia menginginkan sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, seperti gedung yang bagus, pendeta, ibadah yang bagus supaya jika mereka datang ke gereja seolah-olah ibadah mereka akan diterima oleh Tuhan.  Padahal Yesus telah datang dan menghapus dosa manusia, iman telah ada seharusnya orang benar akan hidup oleh iman.

Ibadah yang sejati adalah hati yang taat kepada Tuhan dan bukan sebuah gedung atau ibadah yang bagus.  Dalam 1 Korintus 10 dikatakan bahwa orang Israel makan dan minum rohani yang sama, tetapi Tuhan tidak berkenan kepada mereka.  Mengapa?  Karena mereka berusaha membuat ibadah seperti Perjanjian Lama yang seolah-olah bisa membuat Tuhan berkenan.  Memang apa yang dari manusia bisa terlihat bagus, tetapi tetap saja Tuhan menginginkan manusia taat kepada-Nya.  Saul diperintahkan untuk membunuh semua orang Amalek dan ternaknya, tetapi Saul memilih mengikuti jalannya sendiri yang dia pikir lebih baik daripada perintah Tuhan.  Namun akhirnya Tuhan membenci Saul karena dia tidak taat dan Tuhan memilih Daud, seorang yang berkenan dihati-Nya.

“Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.”  (Amsal 4:7). Permulaan hikmat adalah beroleh hikmat.  kita hanya bisa mendapat hikmat jika kita menginginkan hikmat itu.  Kalau kita memperoleh hikmat maka saat kita ditolak dalam memberitakan Injil, kita tidak akan kecewa karena kita mempunyai hikmat.  Kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah karena kita mau menaati Tuhan.  Hikmat dari Tuhan tidak akan menipu seperti hikmat dari manusia.  Oleh karena itu hikmat harus dipelajari karena hikmat berguna bagi kehidupan kita (Amsal 4:2-6).

“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.  Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.  Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 20:20-23).  Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan perkataan-Nya, mengarahkan telinga pada ucapan-Nya dan menyimpannya dalam lubuk hati supaya kita memperoleh hikmat.  Mengapa harus disimpan dalam hati?  Karena hati adalah sumber kehidupan.  Dari hati bisa timbul sukacita, kepahitan dan lain-lain.  Kita harus terus mengarahkan telinga kita hanya untuk mendengar Tuhan karena Iblis bisa berbicara yang baik, tetapi menipu kita.

Dalam Mazmur 1:1-6, orang yang sudah bertobat lahir baru pasti tidak mau kembali kepada ketidakbenaran.  Kesukaannya adalah Taurat Tuhan atau firman-Nya, bukan bentuk ibadahnya.  Namun orang yang belum dilahirkan kembali hidupnya hanya seperti sekam tertiup angin dan hanya menuju kebinasaan.  Kita adalah orang yang sudah dilahirkan kembali dan hidup dalam Roh, seharusnya kita menjadi orang yang pandai karena hikmat kita berasal dari Tuhan.

“Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” (Amsal 4:22) Kita harus menjadi orang-orang yang mendapatkan kehidupan dan kesembuhan karena percuma kalau kita sudah bertobat dan dilahirkan kembali dan beroleh hidup, tetapi masih sakit-sakitan.  Oleh karena itu, lawan setiap serangan penyakit apapun walaupun kecil atau ringan kita harus tetap melawannya.  Bagi orang-orang yang belum percaya Tuhan, memang bagus kalau mereka disembuhkan, tetapi lebih penting bagi mereka untuk mendapat kehidupan.  Terus pelajari dan dapatkan hikmat-hikmat dari Tuhan!

This entry was posted in Kotbah Tengah Minggu and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.