Perubahan Pola Pikir

Sebagai orang yang sudah bertobat dan dilahirkan kembali, kita punya Roh Kudus di dalam kita.  Namun jangan sampai kita hanya ‘nge-roh’ tanpa mengembangkan cara berpikir kita.  Kita harus merubah cara pikir kita yang salah dan menggantinya dengan yang baru sesuai dengan firman Tuhan dan Roh Kudus agar kita tidak menjadi orang yang ‘bodoh’.Salah satu contoh gaya hidup yang salah adalah ‘terlambat’, entah pada pertemuan, bekerja, dll.  Bagaimana kita bisa hidup dalam Roh kalau kita biasa datang terlambat?  Karena itu mencerminkan gaya hidup kita, apakah kita disiplin atau tidak.  Kalau dalam hal jasmani saja kita tidak bisa disiplin, bisa jadi dalam Tuhan pun kita tidak disiplin.  Disiplin hanya akan terjadi kalau kita sendiri menginginkannya.  Disciple (pemuridan) pun seperti itu.  Pemuridan juga hanya terjadi kalau kita menginginkannya.  Kedisiplinan maupun pemuridan akan mudah untuk dilakukan jika itu menjadi gaya hidup kita karena kita akan lakukan dengan tanpa berpikir karena sudah terbiasa.

Ada sebuah cerita yang bisa untuk kita belajar daripadanya.  Di suatu tempat ada seekor unta dengan anaknya.  Suatu waktu anak unta bertanya pada ayahnya, “Pa, mengapa kita punya punuk?”  Ayah unta menjawab, “Itu untuk menyimpan makanan dan minuman kalau kita berjalan di gurun.”  Anaknya berkata, “Oh begitu.  Lalu mengapa kita punya bulu mata yang panjang dan lebat?”  Ayahnya menjawab, “Untuk melindungi mata kita dari debu saat berjalan di gurun, apalagi ada badai gurun.”  Anak unta bertanya lagi, “Mengapa kaki kita panjang dan ramping ya Pa?”  Ayahnya pun menjawab, “Karena kaki kita tenggelam saat berjalan di pasir, jadi kita bisa dengan mudah menariknya kembali keluar dari pasir.”  Lalu Anak unta berkata, “Kalau begitu ini pertanyaan terakhir ya Pa.  Kalau begitu mengapa kita hidupnya di kebun binatang?”  Ayah unta pun tidak bisa menjawab apa-apa lagi.

Untuk apa semua kegunaan tubuh unta kalau mereka hanya hidup di kebun binatang yang tidak perlu menyimpan cadangan makanan karena di kebun binatang pasti diberi makan teratur, tidak hidup di gurun, dan tidak berjalan di pasir?  Kita punya Roh Kudus, kuasa, bisa berbahasa Roh, tapi untuk apa semuanya itu kalau kita tidak kita pergunakan?  Semuanya itu harusnya dipergunakan untuk hidup dalam Tuhan dan menginjil.

Untuk mencapai tujuan dalam Tuhan, kita perlu dimotivasi.  Hanya orang sombong yang merasa tidak perlu dimotivasi.

Orang yang sukses di dunia ini juga pasti tidak sendirian, dia pasti memperoleh motivasi dan dukungan dari orang lain.

Ada sebuah cerita lagi, tentang seekor kancil dan seekor singa yang hidup di sebuah hutan.  Kancil mengaku kalau dia adalah si raja hutan.  Mendengar hal itu, marahlah singa karena bukankah ia yang jadi raja hutan.  Singa menemui Kancil dan marah kepadanya.  Lalu Kancil berkata, “Kalau kamu tidak percaya bahwa aku adalah raja hutan, ayo ikut aku berkeliling.”  Ketika mereka berjalan di hutan, mereka bertemu dengan ular.  Kancil berteriak, “Hei, ular!”.  Ular menengok kepada kancil yang memanggilnya, lalu larilah ular dari situ dengan ketakutan. Hal yang sama juga terjadi pada serigala, zebra, dan semua hewan yang bertemu dengan mereka.  Akhirnya Singa berkata, “Apa yang kamu katakan benar.  Kamu memang raja hutan.”

Singa itu bodoh.  Ia tidak tahu bahwa sebenarnya hewan-hewan yang lari itu takut karena melihat dirinya bukan karena kancil memanggilnya.  Kita pun harus menyadari siapa yang ada bersama-sama dengan kita.  Yang ‘mem-backup’ kita adalah Tuhan.  Roh Kudus ada di dalam diri kita.  Seharusnya kita menjadi orang yang percaya diri karena Tuhan yang ada dalam kita.  Roh Kudus memberi karunia-karunia, di mana karunia-karunia itu dapat dipergunakan untuk membangun jemaat dengan bernubuat, membangun diri sendiri dengan bahasa Roh, bahkan untuk memberitakan kepada orang-orang berdosa.

Jangan sampai kita hanya punya pengetahuan tapi tidak bertindak atau melakukannya.  Tidak ada alasan lagi kalau Roh Tuhan sudah ada dalam hidup kita.  Hanya dengan berjalan di dalam Rohlah kita merasakan damai sejahtera karena sudah tidak ada lagi roh manapun atau hal apapun yang bisa menuduh kita yang berjalan di dalam Roh.

Mental block (penghalang mental) dan Goal setting (penentuan sasaran).  Mental block adalah segala sesuatu yang menahan mental kita sehingga membuat kita tidak bisa berkembang.  Tiga hal yang menjadi mental block adalah: “Saya tidak bisa, mustahil, dan saya tidak tahu”.   “Jika Anda dilahirkan dalam keadaan miskin, itu adalah takdir atau nasib.  Namun jika Anda mati dalam kemiskinan, itu adalah kebodohan.” Mengapa bisa dikatakan meninggal dalam keadaan miskin adalah kebodohan?  Karena ia tidak melakukan apa-apa untuk mengubah keadaannya.  Inilah salah satu contoh mental block, yaitu tidak menyadari jika dirinya miskin dan ia tidak berubah.

Di dunia ini ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.  Kalau kita mau berubah dan mencapai tujuan, kita harus fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan.  Apa saja yang bisa kita kendalikan?  Pikiran, mood (perasaan), respon, motivasi, dan lain-lain.  Sedangkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan adalah Tuhan.  Di dunia ini kita bisa melihat ada seseorang yang bisa menghasilkan banyak (produktif) dan ada orang lain yang tidak atau lebih sedikit.  Apakah yang membedakan mereka?  Yaitu cara berpikir, mereka mempunyai cara pikir dan mental yang berbeda.  Oleh karena itu kita harus melepaskan mental block supaya tidak ada lagi yang menghalangi.

Renungkan dengan sungguh-sungguh seperti apakah diri kita dan seperti apakah seharusnya kita berdasar firman Tuhan (Yosua 1:8). Contohnya adalah percaya bahwa Kristus sudah menebus kita sehingga tidak ada lagi sakit penyakit, kutuk, kemiskinan. Itu adalah dalam roh, sedangkan secara lahiriah mungkin kelihatannya tidak demikian, karena itu memang perlu proses.

Kita masih hidup di dunia, jadi jangan hanya ‘nge-roh’.  Untuk berhubungan dengan Tuhan kita menggunakan roh, sedangkan untuk hidup di dunia dan berhubungan dengan sesama kita manusia, kita butuh hikmat.  Oleh karena itu kita masih perlu belajar etika, kemampuan, kecakapan, dsb.  Masih banyak cara berpikir yang perlu kita ubah.  Mazmur 1:1-2 mengajarkan agar kita tidak duduk dengan orang berdosa dan pencemooh.  Maksudnya bukan berarti kita tidak boleh berkumpul dengan mereka, tapi di sini berbicara tentang jangan mengikuti apa yang mereka pikirkan yaitu pikiran cemooh.

Saat kita dilahirkan cara kerja otak manusia sama, tapi saat bertumbuh itulah yang membedakan karena informasi yang kita dapatkan berbeda-beda.  Kita mendapatkan asupan (segala hal yang masuk ke diri kita) lewat tiga organ tubuh kita, yaitu: mulut, hidung dan otak (pikiran).  Ketiganya harus di berikan asupan, karena jika tidak manusia akan mati.   Apakah ketiganya sudah kita beri asupan dengan baik?  Zaman sekarang berbagai asupan bisa masuk ke dalam otak kita, baik positif maupun negatif.  Contohnya adalah semboyan, “Apa yang kita percayai bisa terjadi”.  Itu adalah ajaran new age atau new Hinduism, yang kelihatannya bagus, tapi berbahaya karena secara tidak langsung membuat manusia menjadi tuhan atas dirinya karena ia percaya kepada dirinya sendiri.  Empat hal yang manusia lakukan untuk berkembang, yaitu: menyadari, memahami, menguasai, dan memanfaatkan.

Lima hal dalam belajar untuk berubah:  pertama harus ada kata ‘saya’.  Dimulai dengan “saya” bukan “kita.  Kedua harus positif.  Kita memerlukan semboyan, propaganda, dan motivasi yang positif.  Misalnya agar tidak terlambat kita jangan mengatakan, “Jangan terlambat!” karena orang cenderung tidak menekankan juga pada kata jangan, justru yang terekan adalah kata ‘terlambat’ saja.  Akan berbeda kalau kita katakan “Saya datang tepat waktu bahkan sebelumnya.”  Ini harus dikatakan berulang-ulang sampai tertanam pada alam bawah sadar kita supaya itu menjadi kebiasaan dalam hidup kita.

Ketiga adalah tertulis.  Kita harus menuliskan apa yang kita inginkan atau tuju.  Agar kita melihat dan mengingatnya terus-menerus.  Keempat adalah sekarang.  Jangan mengatakan “Saya akan berubah nanti atau bulan depan!”  Berubahlah sekarang juga.   Dan yang kelima adalah menyenangkan. Mulailah dengan hal-hal yang menyenangkan dan apa yang kita senangi.

Apa yang kita pikirkan akan mengubah apa yang kita rasakan.  Apa yang kita rasakan akan mengubah apa yang kita lakukan.  Coba pada awalnya kita sudah berpikir pesimis pasti ke depan segala sesuatu yang kita lakukan menjadi hal yang tidak mengenakkan.

Kita memang hidup dalam Roh, tapi bukan hanya ‘nge-roh’ saja, lalu hidup menderita dan bodoh untuk selamanya.  Walaupun firman Tuhan mengatakan bahwa Ia memilih orang-orang yang dianggap bodoh bagi dunia untuk mempermalukan orang-orang berhikmat (1 Korintus 1:27) tapi Tuhan tidak menginginkan kita bodoh selamanya. Dikatakan mempermalukan berarti orang-orang yang tadinya bodoh itu berubah karena mempermalukan orang-orang berhikmat.  Jadi, berubahlah oleh pembaharuan budi kita.

This entry was posted in Kotbah Minggu and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.