Tanda-tanda dan Mujizat

Darwin Egan LontohMinggu lalu ada seorang teman yang datang dari Cina, yaitu Pak Sofyan.  Dia bukan orang Cina tapi orang Toraja yang besar di Makasar dan sekarang tinggal di Cina.  Pak Sofyan adalah teman dari saudara kita Bayu yang beberapa waktu lalu mendapatkan beasiswa untuk belajar di Cina.

Pak Sofyan sharing kesaksian bagaimana ia bisa menetap di Cina dan kehidupannya di sana.  Saat ia masih duduk di kelas 2 SMA di Indonesia, ada seorang hamba Tuhan yang sering pergi ke Cina datang dan berkhotbah.  Hamba Tuhan itu menantang apakah ada dari mereka yang mau ke Cina.  Karena pada waktu itu Pak Sofyan masih Kristen yang setengah-setengah, ia tidak mengangkat tangannya.  Namun dalam hatinya ia berkata, “Tuhan, kalau Engkau menghendaki, saya mau ke Cina.”  Tujuh tahun sejak kelas 2 SMA itu, Pak Sofyan akhirnya bisa pergi ke Cina bersama pendetanya.  Sedang pendetanya kembali ke Indonesia, ia disuruh tetap tinggal di Cina.  Ia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan saya tidak bisa bahasa Mandarin.  Apa yang harus saya perbuat?”  Kemudian ia mulai dengan meminta tuntunan Tuhan, ia berdoa keliling sambil mengendarai sepeda.

Awal pelayanannya, ada seorang ibu datang ke gereja dimana Pak Sofyan ada, dengan membawa anaknya berumur 5 tahun yang tidak bisa berjalan.  Ibu itu tidak percaya adanya Tuhan (komunis), tapi ia datang ke gereja agar anaknya bisa disembuhkan.  Minggu pertama anaknya didoakan oleh jemaat tapi tidak terjadi apa-apa.  Lalu Pak Sofyan menguatkan ibu itu agar tetap percaya.  Minggu kedua, ibu itu datang lagi.  Anaknya didoakan tapi masih tidak terjadi apa-apa.  Minggu ketiga, didoakan lagi tapi tetap tidak terjadi apa-apa.  Lalu Pak Sofyan seperti mulai frustasi.  Ia pun menantang Tuhan, “Tuhan, betul Kau panggil saya dengan kuasa seperti ini?  Jangan kasih malu dong Tuhan.”  Dan pada Minggu keempat, anak itu datang ke gereja dengan berlari!  Saat Pak Sofyan melihat mujizat terjadi, ia mulai merasakan bahwa Tuhan menyatakan kuasa-Nya dalam pelayanannya.  Minggu kelima anak itu datang bersama keluarga besarnya dan mereka memberikan hidupnya kepada Tuhan.

Kejadian kedua yaitu ada seorang ibu datang ke gereja dan minta agar babinya didoakan karena babi peliharaan ibu itu selalu keguguran sehingga tidak bisa beranak.  Pak Sofyan mendatangi rumah ibu itu bersama beberapa orang.  Sesampainya di sana ia melihat banyak sekali dupa di rumah itu.

Pak Sofyan bertanya bagaimana kalau semua dupa itu dibuang terlebih dahulu.  Orang itu mau dan membuangnya.  Kemudian mereka pergi ke kandang babi dan mendoakan babi itu.  Seminggu kemudian babi itu langsung beranak sebanyak 17 ekor.  Ibu itu pun datang ke gereja, bersaksi, dan ia mau percaya Tuhan.

Banyak mujizat lain yang terjadi melalui Pak Sofyan, yang menandakan bahwa Tuhan menyertai.  Sekitar 3 bulan yang lalu Pak Sofyan menyembuhkan anak yang sakit aneh, yaitu anak itu selalu jatuh jika dipegang oleh orang lain.  Sebelum ia mendoakan anak itu, ia menyuruh keluarga itu membuang semua ilmu-ilmu dari dukun yang ada dalam rumah itu.  Seminggu kemudian Pak Sofyan mendapat kabar bahwa anak itu sembuh, sudah tidak jatuh lagi kalau dipegang, dan seisi kampung anak itu menerima Yesus!

Dari kesaksian Pak Sofyan, kita sangat dikuatkan.  Orang yang bertobat lahir baru diberikan hati yang baru, hati yang ingin orang lain juga mengalami Tuhan seperti kita.  Hati kita yang meresponi dan kita bertindak,  itulah iman.  Iman kita menyenangkan Tuhan.  Dari cerita di atas, kita semakin dikuatkan untuk melakukan lebih dalam hal tanda-tanda dan mujizat.  Karena kalau orang sakit yang kita doakan disembuhkan atau mengalami mujizat tertentu, dari situ kita bisa memberitakan Injil atau kabar kesukaan kepada mereka.

Kalau kita baca dalam alkitab tentang apa yang dikerjakan Yesus selama Ia hidup, kita tahu bahwa Yesus berdoa, mengajar, menyembuhkan, dan memuridkan.  Meskipun panggilan atau profesi kita berbeda-beda, tetapi dalam menjalani panggilan kita semua sama.  Kita juga bisa melakukan semua yang Yesus kerjakan karena Tuhan sudah taruh semuanya dalam diri kita.  Namun kita tidak perlu memaksa harus semuanya terjadi saat tertentu, dan semuanya seketika itu juga.  Tuhanlah yang mengatur.  Tuhan akan bawa kita sehingga kita akan lebih banyak waktu dalam suatu hal tertentu, misalnya menginjil.  Kita tidak boleh mengatur harus terjadi yang ini dan itu, karena itu berarti kita menggunakan cara kita sendiri atau membentuk pola dalam gereja.  Kita harus sensitif supaya tahu kemana Tuhan bawa kita bergerak atau dengan kata lain mendengarkan Roh Kudus.

Kita mengucap syukur dengan orang-orang yang bertobat lahir baru dan kita bisa menikmati menyembah Tuhan bersama-sama sebagai jemaat.  Namun kita mau lebih lagi dalam tanda-tanda dan mujizat.  Dan kalau kita mau lebih, harga yang harus dibayar juga lebih.  Lihat pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya.  Mereka mulai dengan mujizat.  Yesus banyak menyembuhkan orang dan membuat mujizat-mujizat.  Meskipun hanya satu dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus kembali kepada Yesus, tetapi Yesus tidak berhenti menyembuhkan orang-orang.  Kalau kita menyembuhkan orang dan ia tidak mau mengikut Tuhan, kita jangan berhenti, tapi terus lakukan.  Jangan sampai kita berpikir sia-sia kalau orang yang kita sembuhkan kemudian tidak ikut Tuhan.  Karena mana ada orang benar yang mau agar orang yang sakit tidak pernah sembuh dari sakitnya?

Tindakan itu penting, tapi pengajaran juga penting.  Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus dicurahkan dan jemaat berdoa agar mereka penuh dengan Roh Kudus dan mereka bertindak.  Mereka juga bertekun dalam pengajaran rasul-rasul.  Kita juga bisa belajar dari orang lain yang bersemangat mengikut Tuhan sama seperti kita, seperti misal orang-orang Korea yang minggu lalu datang dan juga Pak Sofyan.  Tindakan tanpa pengajaran bisa membuat orang sombong karena berpikir bahwa hal itu berasal dari dirinya sendiri.  Sedangkan pengajaran tanpa tindakan tidak akan jadi kehidupan.

Pak Sofyan tadi bersaksi tentang “tindakan yang bagus-bagus” selama dia melayani di Cina.  Tapi pasti ada juga hal-hal yang tidak enak yang dia lalui.  Saulus harus mengalami hal yang tidak enak, dibutakan matanya oleh Tuhan selama tiga hari (Kisah Para Rasul 9:1-22).  Akhirnya Tuhan membuat selaput yang menutupi matanya gugur dan Saulus percaya kepada Yesus.  Tuhan membukakan mata Saulus, juga mata kita sehingga kita bisa bertobat lahir baru.  Tapi Tuhan tidak hanya membuat kita melihat dan mengerti karena Ia juga memberikan kuasa kepada kita!  Karena untuk apa kita bisa melihat tapi tidak bisa berbuat apa-apa (tidak ada kuasa).  Tidak cukup hanya bertobat lahir baru, tapi Roh Kudus harus tinggal dalam diri kita.  Tuhan memberikan Roh Kudus kepada kita supaya kita bisa bertindak.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannnya, dialah yang mengasihi Aku”. Barangsiapa mengasihi Tuhan, ia akan melakukan perintah-perintah Tuhan (Yohanes 14:21-23) dan tanda-tanda akan menyertai kita orang yang percaya (Markus 16:17-18). Tuhan mengutus kita.  Mari kita minta kepada Tuhan untuk menyertai kita dengan tanda-tanda dan mujizat supaya kita bisa memberitakan Injil kepada orang dan banyak orang datang dan percaya kepada Yesus.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 2, Tuhan mencurahkan Roh-Nya, terjadi janji Tuhan yang dikatakan dalam kitab Yoel, Petrus khotbah di depan banyak orang, lalu pada Kisah Para Rasul pasal 3 terjadi mujizat, Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh.  Kita juga sudah dapatkan janji Tuhan, bertobat lahir baru, dipenuhi Roh Kudus, dan kita beritakan Injil.  Namun orang akan percaya kalau mereka melihat bahwa Tuhan menyertai kita, kalau terjadi tanda dan mujizat!  Sama seperti Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, yang mengatakan “…sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya” (Yohanes 3:2).  Mari kita minta lebih lagi.  Sudah ada Roh Kudus dan kuasa untuk melakukan tanda-tanda mujizat.  Mari kita praktekkan dan lakukan, dalam kehidupan kita sehari-hari dan dalam lingkungan kita, supaya banyak orang percaya kepada Yesus!

This entry was posted in Kotbah Minggu. Bookmark the permalink.

Comments are closed.